Jax tidak pernah menyangka bahwa perjuangan konyolnya di masa SD akan menjadi awal dari perjalanan panjang selama dua dekade. Demi menyatakan cinta pada Shinta, ia nekat menerjang badai hujan bersama "pasukan" teman-temannya hanya untuk mengantarkan selembar surat cinta. Namun, keberanian itu berakhir pahit; suratnya yang basah kuyup ditolak mentah-mentah oleh Shinta di bawah rintik hujan yang dingin.
Takdir ternyata punya selera humor yang unik. Memasuki masa SMP, penolakan itu berubah menjadi hubungan kasih remaja yang manis, meski akhirnya harus kandas karena ego masa muda. Sejak saat itu, Jax dan Shinta terjebak dalam lingkaran persahabatan yang ganjil. Mereka saling berbagi cerita, menjadi saksi pertumbuhan satu sama lain, dan tetap berkomunikasi meski masing-masing sempat mencoba mencari pelabuhan lain.
Di usia 25 tahun—saat logika mulai mendewasakan rasa—keduanya menyadari bahwa ruang kosong di hati mereka hanya bisa diisi oleh satu sama lain. Mereka memutuskan untuk memulai kembali, bukan lagi sebagai anak sekolah yang labil, melainkan sebagai dua orang dewasa yang siap berkomitmen. Puncaknya, di usia 28 tahun, Jax akhirnya membuktikan bahwa surat yang dulu pernah basah oleh hujan, kini telah kering dan tertulis rapi dalam sebuah buku nikah yang sakral. Sebuah kisah tentang ketulusan yang menolak menyerah pada waktu.