Ruan Si Xian bekerja sebagai pramugari di Hengshi Airlines sambil mengejar impian yang jauh lebih besar: menjadi pilot melalui program perekrutan internal perusahaan tersebut. Rencananya mendadak hancur saat reformasi perusahaan yang tidak terduga menghapus kesempatan yang selama ini ia perjuangkan.
Menolak menyerah pada mimpinya, Si Xian mencoba mendekati CEO Fu Mingyu, namun kesalahpahaman yang memalukan justru membuatnya terlihat seolah-olah memiliki perasaan romantis terhadap pria itu. Dengan harga diri yang terluka parah, ia mengundurkan diri dari Hengshi Airlines dalam kemarahan dan memilih jalur lain menuju kokpit.
Secara kebetulan, Si Xian berhasil mendapatkan tempat di akademi penerbangan, di mana ia menjalani pelatihan tertutup yang berat selama tiga tahun. Tekadnya membuahkan hasil ketika ia akhirnya kembali ke Hengshi Airlines—bukan lagi sebagai pramugari, melainkan sebagai pilot luar biasa yang siap membuktikan dirinya di angkasa.
Terbang selalu menjadi ambisi terbesar Si Xian, sementara menjadi seorang kapten berarti menerima tanggung jawab atas setiap nyawa di dalam pesawatnya. Saat berjuang menghadapi berbagai tantangan dalam karier penerbangannya yang luar biasa, perlahan-lahan ia menyadari bahwa ada seseorang yang selalu menjadi cahaya yang tenang di sisinya, secara diam-diam melindungi, mendukung, dan membimbingnya di sepanjang jalan.