Kim Hyeon-woo adalah seorang pemuda tunanetra yang memiliki kemampuan pendengaran sangat tajam. Walaupun tidak dapat melihat, ia mampu mengenali suara, langkah kaki, intonasi, hingga perubahan emosi seseorang hanya melalui pendengarannya. Kemampuan tersebut membuatnya mampu "melihat" dunia dengan cara yang berbeda.
Suatu hari, Hyeon-woo bertemu dengan seorang pria bernama Lee Chung-soo, seorang penulis novel misteri yang sedang menggarap kisah tentang pembunuhan berantai. Chung-soo menceritakan isi novelnya kepada Hyeon-woo secara rinci. Namun, kejanggalan mulai muncul ketika satu per satu peristiwa pembunuhan yang terdapat di dalam novel tersebut benar-benar terjadi di dunia nyata dengan pola yang hampir sama persis. Hal ini membuat Hyeon-woo menyadari bahwa cerita yang didengarnya bukan sekadar fiksi.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Hyeon-woo mulai melakukan penyelidikan bersama Park Mi-rim. Dengan memanfaatkan kepekaan pendengarannya, ia mengumpulkan berbagai petunjuk yang tidak dapat disadari oleh orang lain. Semakin dalam penyelidikan dilakukan, semakin banyak rahasia kelam yang terungkap, termasuk hubungan antara sang penulis, para korban, dan pelaku pembunuhan yang sebenarnya.
Ketegangan semakin meningkat ketika Hyeon-woo menyadari bahwa dirinya sendiri mulai menjadi sasaran pelaku. Dalam kondisi tidak dapat melihat, ia harus mengandalkan insting, pendengaran, serta kecerdasannya untuk mengungkap identitas pembunuh sebelum terlambat. Film kemudian berkembang menjadi permainan psikologis antara pemburu dan yang diburu, di mana setiap petunjuk suara menjadi kunci dalam mengungkap kebenaran.
Pada bagian akhir, identitas pelaku akhirnya terungkap melalui rangkaian bukti yang berhasil disusun Hyeon-woo. Misteri mengenai hubungan antara novel dan pembunuhan nyata pun terpecahkan, meskipun penyelesaiannya tetap menyisakan nuansa psikologis yang membuat penonton mempertanyakan batas antara fiksi, manipulasi, dan kenyataan.