Ae-soon adalah seorang ibu tunggal yang telah mengabdikan hidupnya untuk merawat putranya, In-gyu, yang memiliki disabilitas intelektual. Meski In-gyu sudah berusia 30 tahun, kemampuan berpikirnya masih setara anak kecil sehingga sangat bergantung pada ibunya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka hidup sederhana, namun penuh kasih sayang dan kebahagiaan.
Suatu hari, Ae-soon didiagnosis menderita kanker stadium akhir dan hanya memiliki sedikit waktu untuk hidup. Kabar tersebut membuatnya sangat khawatir tentang nasib In-gyu setelah ia meninggal. Ia menyadari bahwa putranya harus belajar hidup mandiri dan menghadapi dunia tanpa dirinya.
Awalnya, Ae-soon sempat putus asa dan mempertimbangkan keputusan yang ekstrem karena tidak tega meninggalkan putranya sendirian. Namun, ia akhirnya memilih untuk menggunakan sisa waktunya untuk mempersiapkan In-gyu menghadapi masa depan. Dengan penuh cinta dan kesabaran, ia mengajarkan berbagai keterampilan hidup yang selama ini selalu ia lakukan untuk putranya.
Perjalanan mereka dipenuhi momen haru, tawa, dan pelajaran tentang cinta tanpa syarat seorang ibu. Film ini menggambarkan bagaimana kasih sayang sejati tidak hanya berarti melindungi, tetapi juga mempersiapkan orang yang kita cintai untuk mampu berdiri sendiri ketika kita tidak lagi berada di sisinya.