“Kadang, kehilangan satu benda kecil bisa membuat dunia terasa runtuh…”
Pagi itu, Marta terbangun dan menyadari sesuatu yang paling penting dalam hidupnya tiba-tiba hilang, kacamata hitam kesayangannya. Tanpa kacamata itu, dunia yang biasa ia lihat berubah menjadi buram, samar, bahkan membuatnya kehilangan arah. Sebagai seorang anak laki-laki sederhana dengan kaos putih, hoodie biru dongker, celana hitam, dan sepatu hitam yang selalu menemani langkahnya, Marta tidak pernah membayangkan kalau satu pagi bisa terasa begitu menakutkan hanya karena ia tidak bisa melihat dengan jelas.
Di tengah kepanikan dan rasa takut itu, hadir Princess Zora, gadis alien dari Planet Unicorn yang selalu membawa ketenangan seperti cahaya bintang di langit malam. Meski Marta tak mampu melihat wajah Zora dengan jelas tanpa kacamatanya, Zora memilih tetap berada di sampingnya. Ia menggenggam tangan Marta erat-erat, menuntunnya berjalan perlahan mencari kacamata yang hilang ke setiap sudut rumah.
Perjalanan sederhana itu perlahan berubah menjadi momen yang hangat dan menyentuh. Marta mulai menyadari bahwa penglihatan bukan satu-satunya cara untuk merasakan kehadiran seseorang. Dalam dunia yang kabur dan penuh ketidakjelasan, Zora tetap menjadi sosok yang tidak meninggalkannya sendirian. Dari langkah kecil, pegangan tangan, hingga kata-kata lembut yang menenangkan hati, Marta belajar bahwa ada seseorang yang tetap tinggal bahkan saat dirinya sedang kehilangan arah.
“Kacamataku yang Hilang” bukan hanya cerita tentang mencari benda yang hilang, tetapi juga tentang menemukan arti ditemani. Tentang bagaimana seseorang bisa menjadi “mata” bagi orang lain di saat dunia terasa gelap. Tentang persahabatan yang diam-diam terasa lebih hangat dari biasanya. Dan tentang perasaan sederhana ketika ada seseorang yang tetap menggenggam tanganmu, bahkan saat semuanya terlihat buram.