Di tahun 1409, armada raksasa dari Dinasti Ming berlabuh di Muara Jati Cirebon.
Di sanalah takdir seorang gadis bangsawan bernama Nyi Subang Larang mulai berubah.
Dididik oleh Syekh Hasanuddin (Syekh Quro), ia tumbuh menjadi wanita berilmu dan beriman.
Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pangeran Pajajaran — Raden Pamanah Rasa.
Sang pangeran datang untuk menghancurkan pesantren.
Namun satu lantunan ayat suci…
menghentikan langkahnya.
Dari sana dimulai perjalanan paling berbahaya dalam hidupnya:
meninggalkan istana, menyeberangi lautan, hingga ke Tanah Suci Mekkah.
Demi apa?
Demi sebuah tasbih bernama Lintang Kerti Jejer Seratus.
Demi seorang wanita.
Atau demi menemukan Tuhannya?
Kisah ini dipercaya menjadi bagian dari perjalanan spiritual
Prabu Siliwangi
yang kelak dikenal sebagai raja besar Pajajaran.