Langkah kaki Nobita dan Doraemon yang sudah bersiap mengarungi laga bisbol mendadak terhenti seketika oleh jeritan maklumat Ibu. Tanpa bisa ditawar, keduanya dititahkan untuk menjaga dan menemani bermain seorang anak tamu bernama Micchan. Suasana kian memojokkan ego maskulin mereka kala Micchan dengan mata berbinar mengeluarkan boneka mainannya dari rumah dan menuntut untuk bermain rumah-rumahan. Membayangkan diri mereka terjebak dalam permainan kekanak-kanakan tersebut, Nobita dan Doraemon mencoba menolak dengan halus. Namun, pertahanan mereka runtuh seketika saat ruangan dipenuhi oleh raungan tangis Micchan. Tak berdaya menghadapi sandera emosional tersebut, dengan hati yang remuk, keduanya terpaksa berlutut di halaman rumah demi melakoni sandiwara rumah-rumahan.
Di tengah keputusasaan yang melanda, riak takdir baru muncul saat Suneo datang berniat menjemput mereka untuk bertanding. Ketakutan setengah mati akan bayang-bayang kehancuran reputasi jika tertangkap basah sedang bermain boneka, Nobita dan Doraemon panik dan berusaha melarikan diri untuk bersembunyi. Namun, bendungan air mata Micchan kembali pecah, memaksa mereka kembali merendahkan diri dan melanjutkan permainan nista tersebut di bawah ancaman kehancuran sosial. Sial bagi mereka, mata elang Suneo berhasil menangkap pemandangan memilukan itu. Sambil tertawa mengejek, Suneo mengancam akan memanggil seluruh anak-anak di kota untuk menyaksikan tontonan menggelikan ini!
Dalam kepanikan yang memuncak, Nobita dan Doraemon menyeret Micchan masuk ke dalam rumah demi mengamankan diri dari kejaran massa. Tragisnya, di dalam rumah pun Micchan kembali melolongkan tangisannya, memicu murka Ibu yang langsung menghujani Nobita dengan omelan yang memekakkan telinga. Terdesak di antara dua ujung tanduk, Doraemon akhirnya merengkuh sebuah gawai pembuat mukjizat mekanis bernama "Rangka Robot Penghidup Benda" (Honegumi Robotto). Gawai berbentuk struktur endoskeleton mini ini memiliki kemampuan absolut: jika disusupkan ke