Langkah kaki Nobita menapak masuk ke dalam kamarnya sekembalinya ia dari sekolah, namun sebuah kejanggalan langsung menyergap sanubari. Kamar itu kosong melongpong tanpa eksistensi Doraemon, anehnya, gema suara sang robot kucing justru terdengar menggema dengan sangat jelas di udara! Berdasarkan pengakuan dari suara gaib tersebut, untaian kata yang terdengar itu rupanya adalah rekaman suara yang diucapkan tiga puluh menit yang lalu. Suara itu berpesan bahwa Doraemon tengah menghadiri sebuah rapat darurat berskala besar bersama anak-anak lain di lapangan kosong, dan memohon agar Nobita segera menyusul jika sempat.
Tepat saat Nobita bersiap melangkah menuju lapangan, pintu mendadak terbuka dan menampakkan sosok Doraemon yang pulang dalam kondisi yang teramat mengenaskan—tubuhnya babak belur, koyak, dan dipenuhi luka lebam. Sebuah tragedi baru saja pecah: kabar burung mengenai rencana Giant untuk menggelar konser tunggal teranyarnya telah memicu kepanikan massal, membuat anak-anak berkumpul demi merumuskan taktik sabotase untuk menghentikan konser maut tersebut. Malang tak dapat ditolak, Giant kebetulan melintas di dekat sana dan memergoki konspirasi mereka. Tanpa ampun, tirani otot Giant pun meremukkan tubuh Doraemon dan kawan-kawan sebagai hukuman atas pembangkangan tersebut.
Bayang-bayang kelam kini membayangi takdir mereka, mengingat Giant tengah membusungkan dada dengan ambisi mengerikan untuk bernyanyi tanpa henti selama tiga jam penuh. Di tengah keputusasaan untuk menghentikan bencana akustik tersebut, sebuah kilatan jenius mendadak melintas di benak Nobita saat ia mengingat fenomena suara gaib Doraemon di kamar tadi. Doraemon akhirnya menjelaskan bahwa keajaiban itu bersumber dari gawai rekayasa cepat rambat gelombang bernama "Permen Penunda Gema Suara" (Osoda Ame). Setiap satu butir permen medis-akustik ini diemut, maka getaran suara yang dikeluarkan oleh pita suara pengguna akan tertahan dan baru memancar keluar ke telinga publik dengan jeda waktu sepuluh m