Di Indonesia, kata “ormas” sering kali punya citra yang kurang baik.
Bagi sebagian orang, ketika mendengar kata ormas, yang terbayang justru kelompok-kelompok yang identik dengan premanisme, aksi jalanan, pungutan, rebutan lahan parkir, atau kelompok massa yang datang ke berbagai kegiatan untuk mencari keuntungan.
Tapi ada satu hal yang menarik.
Muhammadiyah juga disebut ormas.
Lalu, mengapa citra Muhammadiyah bisa begitu berbeda?
Bagaimana mungkin satu istilah yang sama—organisasi masyarakat—bisa merujuk pada dua realitas yang terasa begitu jauh?