Mendaki gunung dengan cara "Tektok" (naik dan turun di hari yang sama) seringkali membuat pendaki menjadi overconfident dan mengabaikan keselamatan. Itulah kesalahan fatal yang kami lakukan.
Berawal dari cuaca cerah di siang hari, kami nekat tidak membawa tenda dan jas hujan. Namun saat turun dari puncak pada pukul 16:15, gunung yang tadinya ramah berubah menjadi neraka. Hujan badai turun seketika, dan hutan mendadak menjadi gelap gulita layaknya tengah malam. Kejanggalan makin terasa saat jam tanganku berhenti berdetak dan temanku, Rian, mengalami cedera kaki namun anehnya ia terlihat terlalu tenang dan tidak banyak bicara.
Puncaknya adalah ketika aku bertemu dengan seorang nenek misterius pembawa bakul di tengah hutan gelap. Saat aku mencoba meminta bantuan, nenek itu mengatakan kalimat yang membuat darahku membeku: "Gak usah kau tengok ke belakang. Itu bukan kawanmu."
Jika sosok yang kupapah itu bukan Rian... lalu siapa dia? Dan bagaimana bisa Rian yang asli sudah sampai di basecamp 3 jam lebih dulu dariku? Simak kisah horor bertahan hidup di gunung ini sampai habis!