PELANGI DI MARS — BANGGA, TAPI KECEWA
Pelangi di Mars adalah film sci-fi anak Indonesia yang ambisius, menggunakan teknologi XR (Extended Reality) dan proses produksi hingga lima tahun. Film ini mengikuti petualangan seorang anak bernama Pelangi yang hidup di Mars dan berusaha mencari mineral langka untuk menyelamatkan Bumi.
Secara visual, film ini menawarkan sesuatu yang jarang kita lihat di industri film Indonesia. Dunia Mars yang penuh warna, desain produksi yang berani, serta penggunaan teknologi modern menunjukkan bahwa film ini punya ambisi besar untuk membawa genre sci-fi ke level berikutnya.
Namun, di balik visual yang menarik, film ini menghadapi beberapa masalah mendasar. World-building terasa kurang kuat, alur cerita tidak konsisten, dan banyak konflik yang tidak berkembang dengan maksimal. Dialog dan humor juga terkadang terasa tidak selaras dengan setting futuristik film ini.
Meski begitu, Pelangi di Mars tetap menjadi langkah penting bagi perfilman Indonesia, terutama dalam eksplorasi genre sci-fi untuk penonton anak-anak. Film ini membuktikan bahwa sineas lokal mulai berani bereksperimen dengan ide dan teknologi baru.
Dalam review ini gue membahas kelebihan dan kekurangan Pelangi di Mars — apakah ini film yang gagal secara eksekusi, atau justru fondasi penting untuk masa depan film sci-fi Indonesia?
Menurut kalian, Pelangi di Mars itu mengecewakan… atau justru langkah besar yang patut diapresiasi?
Tulis pendapat kalian di kolom komentar 👇
#PelangiDiMars #FilmIndonesia #ReviewFilm #FilmSciFi #SciFiIndonesia #FilmAnak #MovieReview #FilmTerbaru #SinemaIndonesia #ReviewFilmIndonesia