Sebuah pengandaian besar sering kali melintas di kepala kita, membawa pikiran terbang ke masa lalu yang jauh sebelum kita ada di dunia. Seandainya ibu tidak pernah bertemu dan menikah dengan ayah, jalannya semesta pasti akan berubah sepenuhnya. Ibu mungkin akan mengejar semua impian masa mudanya yang tertunda, menjadi sosok perempuan mandiri yang berkeliling dunia, atau meraih karier cemerlang yang dulu sempat ia korbankan demi keluarga. Tanpa beban mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak, garis wajah ibu mungkin akan terlihat lebih muda, bebas dari kerutan lelah yang kini menghiasi sudut matanya. Di semesta alternatif itu, ibu hidup sepenuhnya untuk dirinya sendiri, berbahagia dengan kebebasan yang mutlak tanpa perlu mengalah pada ego orang lain.
Namun, di balik bayangan indah tentang kehidupan ibu yang sempurna tanpa ayah, ada sebuah kenyataan sunyi yang menyadarkan kita. Jika pernikahan itu tidak pernah terjadi, maka kita—anak-anaknya—tidak akan pernah ada di dunia ini. Kita tidak akan pernah menghirup udara bumi, tidak akan pernah mendengar suara tawa ibu, dan tidak akan pernah merasakan hangatnya pelukan dari jemari yang kini mulai mengendur itu. Kehadiran kita, dengan segala cerita, tangis, dan pencapaian kita hari ini, adalah hasil dari keputusan ibu untuk menapaki jalan takdir bersama ayah.