“Jeritan Mencekam” adalah sebuah drama pendek yang sarat misteri dan ketegangan, mengisahkan sekelompok mahasiswa yang, di tengah masa liburan, terjebak dalam ketakutan dan dilema akibat sebuah kasus pembunuhan misterius. Cerita berpusat pada sang tokoh utama, seorang mahasiswa biasa yang, karena suara-suara mengganggu dari asrama sebelah, tak tahan untuk mengingatkan mereka lewat grup obrolan. Namun balasan yang datang justru berupa sebuah foto yang membuat bulu kuduk merinding: seorang perempuan dengan kepala terpenggal, darah mengalir deras. Pemandangan itu menimbulkan kegelisahan dalam hatinya, mempertanyakan apakah ia benar-benar menyaksikan sebuah pembunuhan. Sementara itu, seorang temannya melalui WeChat membisikkan bahwa perempuan dalam foto itu memang telah menjadi korban, tetapi jika polisi dilaporkan, bukan saja si pembunuh takkan dihukum, bahkan dirinya sendiri bisa terkena sanksi karena melanggar aturan tinggal di kampus. Di hadapan tekanan ganda antara moralitas dan kenyataan, sang tokoh utama pun terjerembab dalam konflik batin yang mendalam.
Saat ia masih ragu-ragu, pemuda dari asrama 303 kembali mengirim sebuah video, mencoba membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Namun, detil-detil dalam video itu justru mengungkap kebenaran: perempuan tersebut sudah lama tewas, dan si pembunuh masih berupaya memalsukan tempat kejadian demi mengelak dari kejaran. Tepat ketika sang tokoh utama memutuskan untuk melapor ke polisi, terdengar ketukan di pintu; seorang perempuan yang mengaku dari asrama 303 meminta maaf sambil menyerahkan “hadiah perdamaian”. Melalui lubang intip, ia terkejut mendapati bahwa “korban” itu ternyata masih hidup! Kejadian tak terduga ini seketika melegakannya, namun juga semakin membingungkan: apakah semua ini hanya kebetulan, atau justru sebuah tipu muslihat yang sengaja dirancang oleh si pembunuh?
Seiring alur cerita berkembang, sang tokoh utama perlahan menyadari bahwa di balik perselisihan asrama yang tampak sederhana itu tersimpan