“Tetangga Perempuan yang Memajang Foto Pemakaman” mengisahkan kisah misterius yang terjadi antara seorang ibu muda yang masih lajang, Bai Xiaotian, dengan para penghuni rumah di sekitarnya. Bai Xiaotian pindah ke rumah baru bersama putrinya; ia berwajah cantik menawan, dan interior rumahnya dipenuhi nuansa etnik—terutama sebuah tengkorak kepala sapi yang digantung di ruang tamu serta foto pemakaman hitam-putih di dinding, yang membuat suasana di sana tampak begitu misterius. Sang tokoh utama pria, dalam suatu kesempatan tak terduga, membantunya memindahkan piano, lalu perlahan‑lahan mulai menaruh hati padanya. Namun, ketika hubungan mereka semakin hangat, Bai Xiaotian justru berkali‑kali menunjukkan perilaku yang sulit dimengerti: ia bukan saja mengaku sebagai penjelmaan saudari kembar yang telah tiada, melainkan juga kerap menyebut‑nyebut “kematian” dan “upacara penghormatan”, bahkan memajang fotonya sendiri saat masih hidup sebagai foto pemakaman di dinding. Semua itu membuat sang tokoh utama pria sekaligus bingung dan terpesona.
Seiring berjalannya waktu, interaksi di antara mereka kian bernuansa; dari canda‑canda ringan sehari‑hari hingga sentuhan intim di tengah malam, semua itu seolah‑olah mengarah pada akhir kisah cinta mereka. Namun, setiap kali alur tampak mulai terang, Bai Xiaotian selalu menggunakan sebuah foto pemakaman hitam‑putih atau satu kalimat tentang “kematian” untuk mendorong segalanya ke dalam teka‑teki baru. Sebenarnya, rahasia apa yang tersembunyi di balik masa lalunya? Mengapa ia harus berperan layaknya jiwa yang sudah meninggal dunia? Dan apakah sang tokoh utama pria mampu menemukan kebenaran di tengah permainan perasaan yang penuh misteri ini?
Drama pendek ini, dengan cara menggabungkan unsur misteri dan emosi, menelaah hubungan kompleks antara hidup dan mati, identitas, serta cinta dan nafsu. Alurnya padat dan penuh aksi‑balas, sehingga mengundang banyak renungan. Pesona misterius Bai Xiaotian dan dilema serta pilihan yang dihadapi sang