Menjelang perayaan Hari Anak yang kian dekat, Suneo kembali berulah dengan memamerkan kemegahan bendera ikan hias (koinobori) milik keluarganya yang berkibar angkuh di angkasa. Dengan nada congkak yang menusuk hati, Suneo bergumam sinis, "Apakah sepotong kain hiasan yang tingginya tidak melebihi atap rumah masih layak menyandang nama koinobori...?" Kalimat angkuh tersebut tanpa sengaja terdengar oleh Tecchan, seorang balita malang dari lingkungan sekitar. Hancur berkeping-keping oleh rasa rendah diri, Tecchan langsung berlari menjauh sembari meratap dan menumpahkan air mata kepedihan.
Setibanya di rumah, Tecchan yang didera histeria tangis menuntut sang ibu untuk membelikannya bendera ikan yang menjulang lebih tinggi dari atap rumah, memojokkan sang ibu dalam dilema ekonomi yang menyesakkan dada. Menyaksikan tragedi emosional tersebut, Nobita, Shizuka, dan Giant berbalik menghujani Suneo dengan kecaman moral yang bertubi-tubi atas kesombongannya. Dirundung penyesalan mendalam dan rasa bersalah yang mencabik nuraninya, Suneo berlari pulang ke rumahnya, menurunkan bendera ikan mewahnya, dan dalam keputusasaan yang gelap, ia nekat mengacungkan sebilah gunting, bersiap mencabik-cabik mainan mahal tersebut...!
Tepat di detik-detik krusial yang menegangkan itu, Doraemon yang kebetulan melintas segera menahan tangan Suneo. Begitu motif menyedihkan di balik aksi impulsif itu terungkap, Doraemon meminta Suneo mempercayakan segalanya padanya dan meminjam bendera ikan tersebut. Di kamar Nobita, Doraemon merengkuh sebuah gawai manipulator cuaca bernama "Mesin Generator Reaktor Awan" (Kumo Seizō-ki), mengubah atmosfer ruangan menjadi kolam awan yang tebal. Selanjutnya, dengan mengaplikasikan gawai kemudi biologis bernama "Alat Pengendali Navigasi Koinobori" (Koinobori Sōjū-ki), bendera ikan milik Suneo mendadak bertransformasi menjadi makhluk hidup yang berenang anggun menembus samudera awan tersebut.
https://s.shopee.co.id/5LCsLzh3Fs