Di usianya yang baru genap delapan belas tahun, ia meninggalkan rumah panggung reyot milik ibunya tanpa membawa apa-apa selain kantong plastik berisi bekal singkong goreng dan segenggam impian: ia tak ingin mati dalam kemiskinan.
Kedisiplinan, kejujuran, dan visi tajam yang dibentuk dari tempaan kemiskinan membuat usahanya melesat cepat. Dalam kurun waktu 5 Tahun Perusahaan kecil itu bertransformasi menjadi jaringan ritel modern bernilai miliaran rupiah.